Media sosial belakangan diramaikan istilah Rojali (Rombongan Jarang Beli), Rohana (Rombongan Hanya Nanya), dan Robeli (Rombongan Benar-benar Beli). Menurut Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Islam Indonesia (UII) Listya Endang Artiani, istilah ini muncul secara organik dari masyarakat, bukan strategi pemasaran, dan menjadi cermin konsumsi masyarakat urban.
Listya menilai, di balik kelucuannya, istilah ini adalah “teks sosial” yang menggambarkan perubahan gaya hidup kelas menengah kota pascapandemi. Sosok fiktif Rocita, disebut sebagai Ratu Mal Indonesia yang hafal semua brand namun jarang membeli, menjadi metafora konsumen urban yang terjebak antara keinginan dan keterbatasan dompet.
Fenomena ini, kata Listya, termasuk bentuk folk economics, yakni cara masyarakat mengungkapkan kondisi ekonomi melalui humor, satir, dan meme. Istilah seperti Rojali dan Rohana menjadi “mata uang budaya” yang menghubungkan orang dengan konteks sosial-ekonomi perkotaan, sekaligus alat kritik sosial terhadap stagnasi daya beli, tekanan gaya hidup media sosial, dan kebutuhan rekreasi murah di tengah ketidakpastian ekonomi.
Meski mengandung kritik terhadap kapitalisme konsumtif, industri cenderung pasif atau sekadar ikut tren tanpa memahami pesan di baliknya. “Rojali dan Rohana bukan musuh pasar, tapi cermin masyarakat yang bernegosiasi antara ingin, perlu, dan mampu,” tegas Listya.
Sumber: Tempo
Gambar: Freepik