Ribuan pengemudi ojek online, taksi daring, dan kurir logistik dari berbagai daerah menggelar aksi unjuk rasa bertajuk “Korban Aplikator: Aksi 217” di kawasan Istana Merdeka dan Silang Selatan Monas, Jakarta Pusat, hari ini (21/07/2025). Ini menjadi aksi ketiga sepanjang tahun 2025 yang dilakukan oleh komunitas transportasi daring.
Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyebut sekitar 50.000 pengemudi ikut turun ke jalan dan melakukan off-bid massal dengan mematikan aplikasi sebagai bentuk mogok kerja. Aksi ini disebut sebagai akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah, khususnya Kementerian Perhubungan, yang dianggap tidak tegas menghadapi dominasi aplikator.
Menurut Igun, aksi ini tak hanya diikuti oleh para pengemudi, tapi juga kelompok terdampak lainnya seperti pekerja, buruh, mahasiswa, pelajar, masyarakat umum, hingga pelaku UMKM.
Lima tuntutan utama dalam aksi hari ini:
1. Regulasi transportasi online melalui UU atau Perppu
2. Skema pembagian komisi 90 persen untuk driver, 10 persen untuk aplikator.
3. Penetapan tarif resmi layanan antar barang dan makanan.
4. Audit menyeluruh terhadap perusahaan aplikator.
5. Penghapusan fitur-fitur yang merugikan driver seperti slot, aceng, hub, multi-order, dan sistem keanggotaan
Sebanyak 1.632 personel gabungan dari Polda Metro Jaya, Polres Jakarta Pusat, dan Polsek jajaran dikerahkan untuk mengamankan aksi ini. Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Susatyo Purnomo Condro, mengimbau peserta aksi untuk tetap tertib dan tidak anarkis.
“Kami mohon aksi disampaikan secara santun. Jangan memprovokasi, membakar ban, atau merusak fasilitas umum,” kata Susatyo.
Masyarakat juga diimbau menghindari kawasan Monas dan menggunakan jalur alternatif untuk menghindari kemacetan. Igun menegaskan bahwa aksi ini belum akan menjadi yang terakhir jika pemerintah tidak segera merespons tuntutan secara konkret.
“Kami tidak menolak teknologi. Kami hanya ingin keadilan dan perlindungan hukum yang berpihak pada pengemudi,” tutup Igun.
Dari berbagai sumber
Gambar: Kompas