Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan di Indonesia turun sekitar 128 ribu dari tahun sebelumnya, dengan total pernikahan sebesar 1,6 juta pada 2023. Guru Besar FISIP Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, menyatakan bahwa meningkatnya kemandirian perempuan berperan dalam penurunan ini.
BPS mencatat penurunan pernikahan di beberapa daerah, termasuk Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Selama satu dekade terakhir, jumlah pernikahan menurun sebesar 28,63%, seiring bertambahnya kesempatan bagi perempuan untuk bersekolah dan bekerja.
Bagong menyebut bahwa angka pekerja perempuan di sektor profesional hampir menyamai laki-laki. Angka pekerja perempuan terus meningkat, dengan data pada 2023 mencatat 49,53% perempuan bekerja sebagai profesional.
Selain itu, kondisi ekonomi yang mapan pada laki-laki juga terbatas, yang turut menghambat pernikahan. Dalam hal ini, HSBC dan Pegadaian mencatat ciri-ciri ekonomi mapan, seperti memiliki rumah, dana pendidikan, dan investasi pribadi.
Bagong menilai bahwa tren ini adalah wajar dan sejalan dengan perkembangan zaman. Namun, jika penurunan angka pernikahan terus terjadi, ada kemungkinan angka kelahiran juga menurun.
Ia berharap penurunan ini memberi dampak positif bagi perempuan dan masyarakat. Menurutnya, yang penting adalah memastikan bahwa perubahan ini dapat memberdayakan dan meningkatkan modal sosial masyarakat.
Pada akhirnya, perubahan ini harus mencerminkan perkembangan yang positif, dengan masyarakat yang semakin mendukung kemandirian perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.
Sumber: katadata.co.id
Sumber foto: Newsnesia.id