Fenomena burnout kini semakin sering dialami anak muda Indonesia, terutama Gen Z yang baru masuk dunia kerja. Menurut laporan Fimela.com mencatat enam dari sepuluh Gen Z mengalami burnout, yakni kelelahan mental akibat tekanan kerja yang berlangsung terus-menerus. Kondisi ini tidak hanya membuat mereka kehilangan energi dan motivasi, tetapi juga memengaruhi emosi dan kemampuan fokus.
Gen Z Lebih Rentan Burnout: Kenapa Bisa Begitu?
Menurut penjelasan Dr. Ray, kerentanan Gen Z terhadap burnout dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari jam kerja yang tidak menentu, budaya kerja tanpa batas, hingga tekanan sosial media yang memicu perbandingan berlebihan. Peralihan yang cepat dari dunia pendidikan ke dunia profesional turut memperbesar risiko kelelahan.
Berbagai temuan menunjukkan bahwa burnout di kalangan Gen Z bukan fenomena kecil. Survei Mercer Marsh Benefits tahun 2023 mencatat lebih dari separuh Gen Z di 16 negara termasuk Indonesia mengalami stres setiap hari. Di Indonesia sendiri, gejala yang paling sering muncul adalah rasa lelah berkepanjangan (27%), disusul perasaan tidak berguna (21%), serta gangguan tidur (15%). Temuan lain dari studi Dr. Ray Wagiu Basrowi bersama Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa juga menunjukkan bahwa pekerja Gen Z, khususnya di sektor keuangan, merupakan kelompok yang paling banyak mengalami kelelahan akibat burnout dan tekanan kerja yang tinggi. Situasi ini semakin terlihat pada sektor keuangan. Sekitar enam dari sepuluh pekerja muda di industri tersebut melaporkan stres kerja dan burnout, yang muncul sebagai rasa mudah lelah atau tidak tahan tekanan.
Tanda-tanda burnout umumnya ditandai rasa lelah berkepanjangan, menurunnya konsentrasi, emosi yang mudah berubah, hilangnya minat terhadap aktivitas sehari-hari, serta keluhan fisik seperti sakit kepala dan sulit tidur. Jika tak ditangani, dampaknya bisa mengganggu kesehatan mental dan produktivitas jangka panjang.
Para ahli menyarankan beberapa langkah pencegahan, antara lain menyadari kondisi diri, menetapkan batasan kerja yang jelas, mengatur ulang prioritas, dan menyediakan waktu untuk istirahat. Dukungan sosial juga menjadi elemen penting, sementara konsultasi dengan profesional dianjurkan jika gejala semakin berat.
Fenomena ini menjadi pengingat bagi perusahaan untuk membangun lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan. Keseimbangan hidup, ruang tumbuh, serta perhatian terhadap kesehatan mental menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda yang tengah membangun karier.
Sumber : Fimela.com
Sumber Gambar : Freepik