KABAR BINTARO — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat penanganan dampak kesehatan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Hingga Kamis (28/8/2026), sekitar 5,4 juta orang di tujuh provinsi tercatat terdampak asap karhutla.
Untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan asap, Kemenkes telah mendistribusikan sekitar 5,3 juta masker ke tujuh provinsi terdampak. Bantuan tersebut disalurkan melalui dinas kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Selain masker, Kemenkes juga mempercepat pengiriman oksigen konsentrator ke puskesmas yang berada di wilayah dengan banyak kasus gangguan pernapasan. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat fasilitas kesehatan dalam menangani masyarakat yang terdampak asap karhutla.
Kasus ISPA Ikut Meningkat
Dampak asap karhutla mulai terlihat pada kondisi kesehatan masyarakat. Kemenkes mencatat 4.082 kasus ISPA pada 27 Agustus 2026, dengan total 13.449 kasus sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Selain ISPA, masyarakat di wilayah terdampak juga dilaporkan mengalami keluhan seperti asma dan konjungtivitis atau mata merah.
Sebelumnya, Kemenkes juga melaporkan peningkatan kasus ISPA di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Tengah, misalnya, kasus ISPA dalam satu minggu meningkat dari 402 menjadi 716 kasus atau sekitar 78,1 persen.
Kondisi kualitas udara di sejumlah daerah juga menjadi perhatian. Kemenkes menyebut Pontianak, Kalimantan Barat, sempat berada pada kategori berbahaya akibat tingginya konsentrasi polutan dari asap karhutla. Beberapa wilayah lain seperti Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan juga mengalami kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Masyarakat Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Kemenkes mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara sedang buruk. Jika harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan asap.
Masyarakat juga diminta memantau kualitas udara secara berkala dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk, atau gangguan pernapasan lainnya.
Kemenkes juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit bawaan, karena mereka memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak kesehatan akibat paparan polusi udara.
Penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemadaman api, tetapi juga dengan perlindungan masyarakat yang terdampak asap. Pemerintah terus memperkuat layanan kesehatan dan distribusi perlengkapan medis selama kondisi karhutla masih berlangsung.
Sumber Foto : Tribunnews.com
Sumber Berita : Kementerian Kesehatan RI, ANTARA, dan Liputan6.