Tangerang Selatan diprediksi menjadi wilayah di Jabodetabek yang paling kuat merasakan dampak gempa megathrust. Menurut Suwardi, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Tangerang, getaran di wilayah ini dapat mencapai skala 6 MMI, yang cukup signifikan.
Meski demikian, Suwardi menjelaskan bahwa dampak tsunami masih sulit diprediksi, terutama terkait sejauh mana gelombang akan menjangkau daratan. Kondisi geografis daerah pesisir akan sangat mempengaruhi potensi jangkauan tsunami, dengan pantai yang curam lebih kecil kemungkinannya terdampak dibanding pantai yang landai.
Untuk mengurangi dampak bencana, BMKG telah bekerja sama dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa hingga provinsi. Sosialisasi mitigasi dini dan edukasi terkait penanganan gempa telah dilakukan kepada perangkat daerah, termasuk camat dan lurah, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain sosialisasi, simulasi menghadapi gempa dan tsunami juga telah digelar di berbagai daerah di Banten, dengan melibatkan BPBD dan para pemimpin lokal. Tujuannya adalah agar pemerintah daerah mampu meminimalisir risiko bencana bagi masyarakat, terutama di daerah pesisir.
Isu gempa megathrust telah menjadi perhatian besar, terutama karena potensi gempa berskala besar ini mengancam wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan sekitarnya. Indonesia yang berada di Ring of Fire menjadikannya rentan terhadap aktivitas tektonik.
Gempa megathrust terjadi di zona subduksi, di mana dua lempeng tektonik bertemu dan salah satunya terdorong ke bawah. Ketika gesekan antar lempeng melebihi batas, gempa besar pun terjadi, mengakibatkan guncangan dahsyat di wilayah yang terpengaruh.
Sumber: Tribun News
Sumber foto: Tunashijau.id
