KABAR BINTARO — Penggunaan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) di Indonesia mencatatkan lonjakan tertinggi sepanjang sejarah pada tahun 2026. Namun, di balik kemajuan teknologi tersebut, muncul ancaman serius terhadap ketersediaan air bersih.
Ledakan AI tidak lepas dari pembangunan pusat data (data center) hyperscale terbesar di Indonesia yang terpusat di kawasan Jabodetabek, Karawang, dan Batam. Pusat data inilah yang menjadi otak dari semua layanan AI, mulai dari chatbot, aplikasi keuangan, hingga layanan pemerintahan.
Serap Air Bersih dalam Jumlah Fantastis
Berbeda dengan anggapan umum, pusat data tidak hanya butuh listrik. Sistem pendingin server superkomputer harus bekerja 24 jam non-stop dan butuh air bersih dalam jumlah masif.
Menurut laporan International Energy Agency (IEA) April 2025, rata-rata pusat data 100-megawatt mengonsumsi sekitar 2 juta liter air per hari, setara kebutuhan 6.500 rumah tangga. Secara global, konsumsi telah mencapai 560 miliar liter per tahun dan diproyeksikan melonjak jadi 1,2 triliun liter pada 2030.
Bahkan dalam beban ekstrem, satu kampus hyperscale 200-300 MW bisa mengonsumsi hingga 5 juta galon per hari atau 18,9 juta liter, setara kebutuhan satu kota kecil dengan 10.000-50.000 penduduk.
Dampak Buruk yang Mulai Terasa
Ironisnya, pertumbuhan pusat data ini beriringan dengan krisis air di wilayah industri. BPBD Karawang mencatat pada September 2026, 24 desa di 6 kecamatan mengalami krisis air bersih yang berdampak pada 27.180 jiwa.
Penggunaan air masif ini menimbulkan tiga ancaman:
1. Krisis Air Warga: Penurunan debit sumur warga di sekitar kawasan industri.
2. Pemborosan Air: Pusat data Amerika saja mengonsumsi 17 miliar galon air secara langsung untuk pendinginan pada 2023.
3. Bumerang Ekologis: Eksploitasi air tanah berlebihan mempercepat penurunan muka tanah.
Keseimbangan inilah yang akan menentukan apakah AI benar-benar menjadi kecerdasan untuk manusia, atau justru menjadi bumerang ekologis terbesar di dekade ini.
